Rasionalitas Komunikasi Sebagai Pilihan Gereja Dalam Melawan Politik Uang Di Toraja
Main Article Content
Abstract
Leaders in Toraja society have drawn an understanding of power, recognition, prestige, and dignity. This has an impact on the strong incentive of many Toraja people to change their fate by becoming leaders in any way. The result is that they are eager to go abroad and collect as much money as possible and then come back relying on the power of money to seize positions as leaders. Democracy which provides equal opportunities for all people to vote and be elected has been patterned on transactional politics, namely money politics. This situation certainly threatens and will destroy the building of our democracy. The church, as a very influential part in safeguarding democracy and the succession process of leaders in Toraja society, seems helpless. The power of capital has conquered society, including the church. Is there no other way the church can take? This research was conducted to offer the concept of the rationality of Jurgen Habermas's communication. That massive and systematic money politics can be opposed by the church with the concept of massive and systematic communication rationality as well.
Pemimpin dalam masyarakat Toraja telah ditarik dalam pemahaman kekuasaan, pengakuan, prestise dan harga diri. Hal ini berdampak kepada kuatnya daya dorong banyak orang Toraja untuk mengubah nasibnya dengan menjadi pemimpin dengan cara apapun. Akibatnya adalah mereka dengan hasrat menggebu merantau dan mengumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kembali dengan mengandalkan kekuatan uang untuk merebut posisi sebagai pemimpin. Demokrasi yang memberi kesempatan yang sama bagi seluruh masyarakat untuk memilih dan dipilih telah terpola pada sebuah politik yang transaksional yakni politik uang. Situasi ini tentu mengancam dan akan memporak-porandakan bangunan demokrasi kita. Gereja selaku bagian yang berpengaruh sangat besar dalam mengawal demokrasi serta proses suksesi pemimpin dalam masyarakat Toraja seolah-olah tidak berdaya. Kekuatan kapital telah menaklukkan masyarakat termasuk gereja. Tidak adakah jalan lain yang dapat ditempuh gereja? Penelitian ini dilakukan untuk menawarkan konsep rasionalitas komunikasi Jurgen Habermas. Bahwa politik uang yang massif dan sistematis dapat dilawan oleh gereja dengan konsep rasionalitas komunikasi yang massif dan sistematis juga.
Downloads
Article Details
References
Aditjondro, George J. Pragmatisme Menjadi To Sugi’ Dan To Kapua Di Toraja. Yogyakarta: CV Gunung Sopai Press, 2010.
Gereja Toraja. Benih Yang Tumbuh 6. Ende: Percetakan Arnoldus Ende-Flores, 1975.
Hayat. Manajemen Pelayan Publik. Depok: PT. Raja Grafindo Persada, 2017.
Hardiman, F. Budi. Menuju Masyarakat Komunikatif. Ilmu, Masyarakat, Politik Dan Postmodernisme Menurut Jurgen Habermas. Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 2009.
Parimba, Hendry, wawancara oleh Penulis, Toraja, Indonesia, 8 Maret 2021.
Nanuru, Ricardo Freedom. Gereja Sosial Menurut Rasionalitas Jurgen Habermas. Sleman: Penerbit Deepublish, 2020.,
Rappoport, Dana. Nyanyian Tana Diperciki Tiga Darah. Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2014.
Ridwan, Juniarso. Sudrajat, Achmad Sodik. Hukum Administrasi Negara Dan Kebijakan Pelayanan Publik. Bandung: Penerbit Nuansa Cendekia, 2019.
Sanderan, Rannu. Exemplary, Menemukan Kunci Pendidikan Iman Bagi Anak Dalam Keluarga Dan Pembelajaran Agama Di Sekolah. Tana Toraja: STAKN Toraja, 2016.
Sanderan, Rannu. “Heuristika dalam Pendidikan Karakter Manusia Toraja Tradisional,” BIA’: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Kontekstual 3, no. 2 (December 19, 2020): 306–27.
Sugiono. Metode Penelitian Kualitatif, Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabet, 2011.
Supraja, Muhamad. Pengantar Metodologi Ilmu Sosial Kritis Jurgen Habermas. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 2017.
Sutrisno, Mudji. Membaca RUPA WAJAH Kebudayaan. Yogyakarta: PT. KANISIUS, 2014.
Tangdilintin L.T. Toraja dan Kebudayaan. Tana Toraja: Yayasan Lepongan Bulan (YALBU), 1981.
Widyatmadja, Josef P. Yesus Dan Wong Cilik. Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2012.